Bandung Dulu Lain Sekararng
Kota Bandung (kotamadya) adalah ibu kota provinsi Jawa Barat. Kota
Bandung secara geografis terletak antara 107 Bujur Timur and 6 55
Lintang Selatan. Wilayah Kota Bandung sebelah utara berbatasan dengan
Kabupaten Bandung, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Bandung,
sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung sedangkan sebelah
selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung. Luas wilayah Kota Bandung
167,45 km2 dan terbagi menjadi dua puluh enam kecamatan.
Lima
PTN yakni Universitas Padjajaran, Institut Teknologi Bandung,
Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, IAIN dan STIA-LAN. Ditambah
sekitar 40 PTS dari berbagai strata, mulai dari program 3 sampai program
S3, Bandung merasa sah menyebut dirinya sebagai pusat kegiatan
pendidikan tinggi.
Kegiatan perdagangan, hotel dan restoran,
menjadi sandaran struktur ekonomi kota. Kegiatan perdagangan yang
memberi andil terbesar bagi perputaran ekonomi kota ini ditunjang oleh
47 lokasi pasar tradisional dan 23 pertokoan di 16 kecamatan.
Selain
perdagangan, industri pengolahan menjadi andalan kedua yang
menghasilkan. Hasil utama kegiatan industri ini adalah tekstil dan
pakaian jadi. Selain dipasarkan melalui factory outlet yang marak di
seluruh penjuru Kota Bandung, Produk ini menjadi salah astu komoditas
ekspor unggulan. Produk lain yang diekspor adalah alat elektronika
seperti kotak amplifier, trafo, dan parabola yang dibuat di gang-gang
sempit wilayah Kebongedang.
Terletak di dataran tinggi, Bandung
dikenal sebagai tempat yang berhawa sejuk. Hal ini menjadikan Bandung
sebagai salah satu kota tujuan wisata. Predikat sebagai pusat kegiatan
kebudayaan dan pariwisata disandang karena kota ini tidak pernah sepi
dari pengunjung. Objek wisat yang ditawarkan terdiri dari wisata
belanja, wisata hiburan, dan wisata budaya.
Untuk sektor
transportasi, Kota Bandung memiliki sebuah bandara internasional, yaitu
Bandara Husein Sastranegara yang menghubungkan Bandung dengan kota-kota
lainnya di Indonesia dan juga Kuala Lumpur di Malaysia. Bandung juga
mempunyai dua stasiun kereta api, yaitu Stasiun Bandung yang setiap
harinya melayani rute Bandung-Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan
Semarang untuk kelas Bisnis dan Eksekutif dan Stasiun Kiaracondong untuk
Kelas Ekonomi. Prasarana jalan di kota Bandung, antara lain, Jembatan
Pasupati yang menghubungkan bagian utara dan timur Kota Bandung.
Jembatan itu melewati lembah Cikapundung. Panjangnya 2,8 km dan lebarnya
30-60 m. Pada 25 Juni 2005 jembatan ini resmi dibuka. Jembatan ini
rencananya akan menjadi land mark kota Bandung yang baru.


Bandung
- Berkunjung ke kota Bandung cobalah dengan nuansa lain. Sesungguhnya
Bandung tidak hanya memuaskan nafsu belanja dan kebutuhan kuliner saja,
Bandung juga bisa dinikmati dengan memperhatikan arsitektur bangunannya.
Cobalah
menyusuri Jalan Braga. Kawasan yang dimulai dari Jalan Asia Afrika
(persis di sisi bangunan Gedung Merdeka) sampai dengan rel kereta api
menjelang Jalan Wastukencana ini adalah saksi bisu zaman keemasan
arsitektur di Indonesia.
Bangunan-bangunan di Braga sampai kini
menjadi semacam etalase berbagai gaya arsitektur. Mulai dari
klasik-romantik, art deco, Indo-Europeanen, neo klasik, gaya campuran,
sampai gaya arsitektur modern. Meski tak sepenuh sesuai dengan aslinya,
keindahan arsitektur itu masih bisa kita saksikan di berbagai bangunan
di kawasan Braga.
Misalnya Gedung Landmark, bekas toko buku Van
Dorp dan gedung bioskop Majestic. Ketiga bangunan itu adalah hasil
rancangan arsitek Wolff Schoemaker yang dibangun pada 1922. Arsitektur
bangunan-bangunan itu menampilkan perpaduan antara arsitektur Barat dan
Timur.
Dulunya, Braga hanyalah sebuah jalan tanah yang berlumpur
pada musim hujan dan berdebu pada musim kemarau. Hanya pedati yang
ditarik kerbau yang melewati jalan itu untuk mengangkut hasil bumi ke koffie pakhuis. Karena itu jalan tersebut dijuluki Karrenweg atau Pedatiweg.
Tentu
saja sulit membayangkan Braga kini dulunya tempat lintasan kerbau
menghela pedati. Maklumlah, Braga kini dengan deretan toko-toko yang
menjual berbagai keperluan itu adalah salah satu kawasan termahal di
kota Bandung.
Namun kalau mau ditelusuri lebih jauh, jejak kerbau
menarik pedati itu menjadi gedung yang paling penting di Bandung saat
ini. Gedung Balai Kota Bandung di Jalan Wastukencana dulunya adalah
bekas lokasi gudang kopi.
Nama Braga sebagai nama jalan muncul
pada 18 Juni 1882. Uniknya, nama itu diambil dari kelompok sandiwara
tonil yang didirikan Asisten Residen Bandung Pieter Sijthoff. Sang
asisten memberi nama kelompok tonilnya 'Braga'.
Karena untuk
pemukiman orang Belanda, tidak heran jika bangunan-bangunan di sepanjang
Braga aslinya bergaya arsitektur Oud Holland. Cirinya, bangunan induk
memiliki gudang atau paviliun yang letaknya sejajar.
Wali Kota
Bandung saat itu, B Coops berambisi menjadikan Braga sebagai komples
pertokoan paling terkemuka di Hindia Belanda (Indonesia), De meest Europeesche winkel straat van Indie".
Pada
zaman itu, Braga menjadi pusat belanja paling bergengsi. Masyarakat
Bandung dan sekitarnya yang tergolong kaya berusaha memenuhi
kebutuhannya dari Braga. Mereka membeli kain berkualitas impor di Toko
Onderling Belang yang bangunannya sekarang ditempati Sarinah, atau hanya
sekadar cuci mata melihat-lihat barang yang dipamerkan di etalase toko
sepanjang jalan Braga sehingga kemudian muncul istilahBragaderen.
Sampai
kini, pamor Braga sebagai kawasan elit di Bandung tidak memudar.
Kendati berbagai daerah-daerah satelit baru bermunculan. Bentuk asli
Braga yang menggambarkan ciri kota Bandung terus dipertahankan. Pemilik
bangunan di jalan itu tidak bisa leluasa mendapatkan ijin untuk
merenovasi bentuk bangunannya.
Namun seiring perjalanan zaman,
fungsi bangunan di kawasan Braga itu pun disesuaikan dengan kebutuhan
zaman. Selain toko buku dan restoran, kawasan Braga pun tumbuh sebagai
kawasan bisnis. Di Jalan Braga kini ada Braga Citiwalk dengan
hotel/apartemen di dalamnya.
Bila hari telah beranjak malam,
kawasan Braga pun menjadi hingar bingar dengan dentuman music berbagai
pub yang terdapat di sana. Jadi, untuk melengkapi kenikmatan menikmati
keindahan arstitektur Braga pada siang hari, cobalah datang pada malam
hari untuk melihat keindahan kehidupan malam di kota Bandung. [L1] (31-01-2008)
Sumber :
Abriansyah
http://www.inilah.com/berita/politik/2008/01/31/11193/braga-keindahan-arsitektur-bandung/
14 Agustus 2008
Sumber Gambar:
http://www.panoramio.com/photo/8081709
http://pub.mahawarman.net/bandoeng-jaman-doeloe/Bandung%20-%20Jalan%20Braga%20(Toko%20Luijks).jpg
lagu jl braga oleh Hety Koes Endang <click> video bandung tempo dulu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar