Rabu, 12 Desember 2012

Makna Demo Kratos

Sebuah negeri didirikan oleh hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang memimpin, siapa yang lebih besar dialah yang benar, siapa yang lebih kuasa dialah yang mengatur, kebenaran ada dipihak penguasa, proses pencapaian kekuasaaan di hutan rimba yang penuh hewan buas tidak terlepas dari peperangan, penindasan, rekayasa, kebohongan disertai pengingkaran diri. 

Kelompok semut memprotes penguasa rimba hanya untuk membagi gula, semut memerangi semut tidak untuk merebut kemenangan, melainkan untuk berebut gula, kebenaran terletak bukan pada hakikatnya melainkan pada siapa yang berkuasa, dengan cara apapun yang penting menang... siapa yang menang ..dialah yang benar..

Lalu si kalah akan menyusun cara untuk menuntut si pemenang dengan berbagai cara, mencari berbagai kelemahan dan kekurangan dari si penguasa/pemenang, ketika si penguasa ketahuan kekurangannya maka si kalah melakukan unjuk rasa, dengan dalih keadilan untuk rakyat (Rakyat ??????) rakyat yang mana...? rakyat yang tergabung dikelompoknya sendiri.

Demo = Menunjukan (kebenaran, kesalahan, perasaan, kekuatan, kelemahan, kekurangan, kelebihan, kesakitan dll) Kratos = Kreatifitas ( Keahlian, Keunggulan, Kebudayaan dll ).
Seperti halnya di negeri ini, semua kelompok yang merasa tidak terakomodir asfirasinya bicara tentang kebenaran dan keadilan melalui demo, tuntutan keadilan bagi suatu kelompok yang merasa tertindas, terutama penindasan secara ekonomi, ketika suatu kelompok telah merasakan akan tercapanya keadilan ekonomi, mereka tak lagi memikirkan keadilan bagi kelompok lain yang masih menuntut keadilan. 

Lalu dimanakah letak keadilan sesungguhnya...? kedilan terletak pada bagaimana seseorang atau kelompok yang telah merasakan akan tercapainya suatu tujuan mereka, tanpa memikirkan kelompok lainnya yang masih mengharapkan keadilan... akhirnya kelompok yang tidak terakomodir aspirasinya akan membentuk lagi suatu kelompok lagi dengan berbagai jenis nama dan simbol bermacam-macam, begitu juga dengan kelompok-kelompok lainnya lagi, terus dan terus membentuk sutu kelompok untuk menuntut keinginan meeka, sehigga begitu banyak atribut-atribut kelompok yang tersebar dimana mana yang menggaungkan keadilan.

Sehingga si pemenang/penguasa tidak bisa tinggal diam, mereka turut mengkampanyekan keadilan melalui dalil pembangunan dengan cara membagi kue kekuasaan dengan kelompok tertentu, dengan merangkul salah satu atau beberapa kelompok masyarakat yang dipandang kuat untuk menjadi tandingan bagi kelompok masyarakat yang menuntut keadilan kepadanya.  

Ketika kelompok masyarakat yang kuat telah berpihak kepada pihak pemenang...masyarakat awam tak lagi tahu keadilan yang sesungguhnya. Berpikir dan bertindak benar di tempat orang-orang tidak benar  maka hasilnya menjadi tidak baik, justru si benar itu yang akan di anggap salah oleh sekelompok besar yang tidak benar.

Suatu negara di bangun dan didirikan oleh konsfirasi besar yang di dalamnya terdapat berbagai macam kebohongan, tipu muslihat, penindasan, amoral, kebiadaban, yang semuanya diselimuti oleh kedok politik yang cantik dan tampan, dengan istilah masa sekarang adalah pencitraan...sehingga akhirnya kedok tersebut di contoh lagi oleh kelompok oposisi lainnya, karena dianggap cara demikan cukup jitu untuk dijadikan senjata untuk perebutan simpati rakyat, yang mudah-mudahan rakyat dapat dibohongi.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar