Wacana
kiamat makin masif dibahas di banyak media sosial, terutama menjelang
tanggal 20 Desember 2012 atau 20-12-2012 (info lain: 21-12-12). Ketika
banyak orang yang sengaja operasi caesar pada 12-12-12 yang lalu, juga
menikah pada tanggal tersebut, bahkan cerai pun pada tanggal itu, banyak
juga orang yang waswas atas ramalan kiamat Suku Maya. Selain kehancuran
Bumi, kiamat juga bisa terjadi karena Bumi tenggelam akibat banjir
sejagat. Apalagi ada bukti bahwa sembilan dari sepuluh tahun terpanas
pada abad ke-20 lalu terjadi sejak tahun 1980-an dan terjadi pencairan
es di kutub serta kenaikan muka air laut antara 15 - 25 cm pada 110
tahun terakhir. Ada pertanyaan, betulkah banjir sejagat atau minimal kematian pulau bisa terjadi karena Global Warming? Tak dimungkiri, kenaikan konsentrasi CO2 menjadi salah satu sebab kenaikan temperatur Bumi. Bersama metana yang ke luar dari rawa, sawah, dan tangki septik, gas CO2 dimasukkan ke dalam gas rumah kaca (greenhouse gas) dan konsentrasinya kian besar karena industri otomotif. Tambah runyam lagi karena terjadi pembakaran atau kebakaran hutan seperti di Kalimantan dan Riau. Dua dekade terakhir ini Riau telah memusnahkan tiga juta hektar hutannya dan lahan kritisnya menjadi 2,4 juta ha. Di Karangasem juga, area hutannya hanya 16% dari luas wilayahnya, setengah dari luasan ideal 32%. Ini pun ikut memperbanyak CO2 di atmosfer.
Diyakini pula, perubahan iklim dapat mengubah pola sebaran penyakit malaria,
DBD, flu unggas, kerusakan terumbu karang, hutan, pertanian,
perkebunan, perpindahan penduduk pantai yang kebanjiran air laut
khususnya pulau-pulau kecil dan penurunan ketersediaan air tawar atau
air sungai (seperti di Kalimantan) yang menjadi payau karena pasang air
laut. Yang paling menderita ialah negara berkembang karena secara
geografis banyak yang berada di tropis. Diperkirakan 2% dari Produk
Domestik Brutto (PDB) dunia lenyap akibat perubahan iklim dan kerugian
terbesar diderita negara berkembang, antara 2 - 9% dari PDB-nya. Itu
semua terkait dengan karbondioksida (CO2).
Karbondioksida ialah hasil pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara dan minyak yang banyak digunakan untuk pembangkit listrik, transportasi dan kegiatan rumah tangga. CO2 dan uap air inilah yang mengatur temperatur muka Bumi sehingga kehidupannya atau ekosistemnya terjaga sampai sekarang. Bumi dapat menyerap setengah dari energi total matahari dan sisanya dipantulkan serta sebagian lainnya diserap oleh gas-gas di atmosfer. Hampir 60% dari energi yang diserap itu digunakan untuk penguapan air laut, sungai, danau dan air tanah sedangkan 40% sisanya dilepaskan ke atmosfer sebagai radiasi gelombang panjang.
CO2,
uap air dan gas lainnya menyerap sebagian besar energi ini dan
diemisikan ke Bumi. Akibatnya, permukaan Bumi menjadi hangat. Fenomena
ini disebut natural greenhouse effect.
Artinya, ada korelasi antara kadar CO2 di atmosfer dan temperatur Bumi
yang diduga sudah terjadi sejak 160.000 tahun yang lalu. Distribusi
kontributor gas rumah kaca itu ialah CO2 49%, CH4 18%, N2O 6%, CFC 14%
dan gas lainnya 13%. Diduga pula, sebelum dihuni manusia, atmosfer Bumi
telah berisi CO2, uap air dan gas lainnya sehingga planet ini menjadi
hangat. Industri lantas melipatgandakan kadarnya menjadi 22 milyar
ton/tahun dengan waktu retensi di atmosfer antara 50 - 200 tahun. Pada
awal revolusi industri, kadar CO2 di atmosfer 280 ppm tetapi menjadi 383
ppm menurut pantauan IPCC tahun ini. Kalau nihil tindakan nyata dari
semua negara, terutama negara maju, maka pada medio abad 21 ini kadar
CO2 diprediksi mencapai 560 ppm sehingga temperatur naik 2 - 3 derajat
Celcius. Lantas, terjadilah periode awal banjir sejagat. Betulkah
demikian?
Banjir Sejagat
Ada pertanyaan, betulkah banjir sejagat atau minimal kematian pulau bisa terjadi karena Global Warming?
Tak dimungkiri, kenaikan konsentrasi CO2 menjadi salah satu sebab
kenaikan temperatur Bumi. Bersama metana yang ke luar dari rawa, sawah,
dan tangki septik, gas CO2 dimasukkan ke dalam gas rumah kaca (greenhouse gas)
dan konsentrasinya kian besar karena industri otomotif. Tambah runyam
lagi karena terjadi pembakaran atau kebakaran hutan seperti di
Kalimantan dan Riau. Dua dekade terakhir ini Riau telah memusnahkan tiga
juta hektar hutannya dan lahan kritisnya menjadi 2,4 juta ha. Di
Karangasem juga, area hutannya hanya 16% dari luas wilayahnya, setengah
dari luasan ideal 32%. Ini pun ikut memperbanyak CO2 di atmosfer.
Jika
demikian, betulkah nusa kecil bakal lenyap ditelan air laut? Teori yang
bertalian dengan kenaikan muka air laut ialah teori pencairan “pulau”
es di kutub atau Teori Lebur (Melting Theory).
Dari data pasang surut air laut di sejumlah negara diperoleh gambaran
bahwa fenomena tersebut betul terjadi walaupun bersifat lokal. Kenapa
perlu dicermati? Karena ada dua perubahan penting yang mungkin terjadi,
yaitu perubahan ketinggian muka air karena daratan bergerak relatif
terhadap laut (perubahan isostatik) dan perubahan karena penambahan
volume air laut dari pencairan es dan salju (perubahan eustatik) yang
ada di daratan atau kontinental (benua).
Benarkah
es di Kutub Utara dan Kutub Selatan dapat mencair? Banyak kalangan yang
setuju dengan pendapat ini kalau terjadi peningkatan temperatur
atmosfer. Alasannya, jika temperatur global naik maka muka air laut pun
naik, karena gunung es dan salju mencair. Air es tersebut masuk ke laut
sehingga permukaannya naik dan membanjiri daratan atau pantai, bahkan
pulau-pulau kecil bisa tenggelam. Terasa dugaan itu betul alias masuk
akal. Namun demikian, Kutub Utara dan Kutub Selatan memiliki karakter
yang berbeda. Kutub Selatan atau Antartika ialah daratan atau tanah yang
dilapisi es. Bisa dikatakan sebagai landas kontinen (benua). Lapisan es
di Antartika menutupi semua permukaan tanah dan sebagian yang lainnya
terapung. Sebaliknya, Kutub Utara atau Laut Artik adalah air laut yang
membeku membentuk “pulau” dan gunung es. Dapat disimpulkan, Kutub Utara,
selain Greenland yang berupa tanah, ialah bongkahan es yang terapung di
laut.
Dengan demikian, apabila Global Warming
terus berlanjut dan temperatur mondial terus naik, apa yang akan
dialami oleh lempeng atau bukit-bukit es di kedua kutub tersebut? Jika
“pulau-pulau terapung” di Kutub Utara mencair maka tidak akan banyak
mempengaruhi ketinggian muka air laut! Kenapa? Analoginya ialah gelas
yang penuh air, berisi sepotong es yang menyembul di permukaannya.
Meskipun esnya habis mencair, tetapi air di gelas tidak akan tumpah.
Pencairan es di Artik hanya akan mengubah wujudnya saja menjadi cair
tetapi tidak punya efek untuk menaikkan permukaan air laut. Nihil
dampaknya pada muka air laut.
Hal
sebaliknya terjadi di Kutub Selatan. Pencairan gunung es yang ada di
daratan Antartika dapat mempengaruhi ketinggian muka air laut. Volume
total es di daratan Antartika cukup besar untuk menambah volume air
laut. Tetapi perlu dicatat, karakter sistem lingkungan di Antartika
sangat-sangat dingin. Temperaturnya jauh di bawah titik nol sehingga
tipislah kemungkinannya es di sana dapat mencair. Artinya, pemanasan
global tidak akan dapat mencairkan semua es di Antartika karena
temperaturnya akan tetap berada di bawah nol. Seandainya akibat panas
global itu temperatur di Kutub Selatan dapat mendekati nol sehingga es
mulai mencair maka dapat disimpulkan bahwa semua manusia sudah mati
karena temperatur atmosfernya sangat panas sebelum berdampak pada
kenaikan muka air laut. Apalagi di daerah katulistiwa dan gurun pasir di
Arab dan Afrika, temperaturnya pasti sudah sangat panas dan semua orang
terkena heat stroke.
Akhir kata, dan ini yang pasti, CO2 hasil aktivitas manusia (anthropogenic)
diyakini telah meningkatkan temperatur muka bumi. Diperkirakan,
peningkatan dua kali kadar CO2 akan menaikkan temperatur Bumi antara 1,5
- 4,5 derajat Celcius dan berpengaruh pada pola iklim. Pemanasan global
mungkin saja dapat mencairkan salju dan es yang mengakibatkan muka air
laut naik. Namun demikian, mungkinkah temperatur atmosfer Bumi naik
sekian puluh derajat sehingga semua esnya mencair? Mungkinkah pada saat
itu manusia masih hidup? Sulit menjawabnya, perlu penelitian untuk
memodelkan perubahan temperatur dan dampaknya pada es di daerah kutub,
di daerah tropis dan subtropis. * (Gambar: Wikipedia)
Hal
sebaliknya terjadi di Kutub Selatan. Pencairan gunung es yang ada di
daratan Antartika dapat mempengaruhi ketinggian muka air laut. Volume
total es di daratan Antartika cukup besar untuk menambah volume air
laut. Tetapi perlu dicatat, karakter sistem lingkungan di Antartika
sangat-sangat dingin. Temperaturnya jauh di bawah titik nol sehingga
tipislah kemungkinannya es di sana dapat mencair. Artinya, pemanasan
global tidak akan dapat mencairkan semua es di Antartika karena
temperaturnya akan tetap berada di bawah nol. Seandainya akibat panas
global itu temperatur di Kutub Selatan dapat mendekati nol sehingga es
mulai mencair maka dapat disimpulkan bahwa semua manusia sudah mati
karena temperatur atmosfernya sangat panas sebelum berdampak pada
kenaikan muka air laut. Apalagi di daerah katulistiwa dan gurun pasir di
Arab dan Afrika, temperaturnya pasti sudah sangat panas dan semua orang
terkena heat stroke.
Namun hal kontradiktif dapat saja terjadi.
Peningkatan temperatur di Kutub Selatan menyebabkan air laut di
sekitarnya menguap. Hembusan angin lalu membawa uap itu ke Kutub Selatan
yang akhirnya jatuh dan membeku di daratan Antartika. Jika proses ini
berlangsung terus maka sejumlah air pindah dari laut ke darat yang
berarti justru terjadi penurunan muka
air laut. Sekali lagi, muka air laut justru turun! Jika pemanasan
global punya efek pada pencairan es di Artik dan penguapan air laut di
sekitar Antartika sehingga permukaannya turun, apakah secara global air
laut akan tetap naik? Sulit menjawabnya dengan pasti karena bergantung
pada jumlah volume es yang mencair di Artik dan jumlah volume air laut
yang menguap dan membeku di daratan Antartika. Terlihat, kasus ini tidak
sesederhana yang diduga sebagian kalangan bahwa jika Bumi memanas sama
dengan pencairan es dan berarti kenaikan muka air laut naik.
Selain
di Antartika, ada banyak es dan salju abadi karena tidak mencair sejak
dulu, seperti di Pegunungan Jaya Wijaya (Papua) dan Himalaya (India).
Pada awal abad ke-21 ini ada indikasi es tersebut mulai mencair. Jika
pemanasan global berlanjut, boleh jadi semuanya akan mencair. Dari
penelitian tentang pencairan gletser yang dilakukan Meier, terbukti
bahwa terjadi kenaikan 2,8 cm muka air laut selama periode 1900-1961.
IPCC pun memperkirakan akan terjadi kenaikan muka air laut sampai 29 cm
pada tahun 2030 dan tahun 2070 menjadi 71 cm atau hampir 1 meter pada
akhir abad 21 nanti. Ini berlaku jika emisi gas rumah kaca masih seperti
saat ini apalagi jika ada peningkatan.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar